Penutupan Pelatihan Manajemen Suporter Sepak Bola

Acara bertajuk ‘Pelatihan Manajemen Suporter Sepak Bola’ yang dicetus oleh PSSI bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), Rabu 15 Juli 2020 resmi ditutup. Pelaksana tugas Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi dan Asisten Deputi Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Kemenpora RI , Herman Chaniago, hadir dalam kesempatan itu.

“Tidak ada yang saya harapkan, selain mudah-mudahan apa yang kita lakukan semua disini selama beberapa hari di seminar pelatihan ini, dapat bermanfaat bagi kita semua juga di masa-masa mendatang,” buka Yunus Nusi jelang penutupan acara.

“Tak lupa juga saya turut mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kemenpora atas bantuan dan kerjasamanya selama ini bersama kami. Besar harapan kami, suporter kedepannya menjadi penentu kesuksesan sepak bola Indonesia. Apalagi tahun depan kita memiliki hajatan besar Piala Dunia U20. PSSI akan terus merangkul suporter untuk menjadi mitra kami atas suksesnya pertandingan sepak bola tersebut nantinya.”

“Kita harus terus bergandengan tangan untuk mencapai kesuksesan secara bersama-sama. Hal penting adalah kesinambungan kerjasama dengan semua stakeholders untuk menyukseskan Piala Dunia U20 tahun depan. Ketua Umum juga nantinya berencana akan memberikan beberapa tiket gratis kepada suporter dan mantan pemain timnas di tempat berlangsungnya pertandingan,” jelas Yunus Nusi.

Sementara itu, Herman Chaniago mengatakan, “Peran suporter sangat strategis menurut saya. Dukungan dari mereka sangat terasa dan bergelora. Semoga setelah ini, materi-materi yang diberikan, bisa diaplikasikan dan sepak bola Indonesia semakin maju dengan dukungan suporternya,” tegasnya sambil menutup acara.

Untuk diketahui kembali, kegiatan ini berlangsung di Hotel Pullman, Jakarta dari tanggal 13 itu dihadiri oleh beberapa perwakilan suporter. Mereka diantaranya adalah The Jakmania, Viking, SFC Mania dan lain-lain, selain itu acara ini juga dapat disaksikan secara virtual melalui zoom.

Sebelum penutupan, ada beberapa materi-materi yang diberikan. Antara lain Pengembangan Direktorat Teknik PSSI yang dibawakan langsung oleh Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri. Kemudian materi berlanjut ke Law of the Game yang dibawakan oleh perwakilan dari Direktorat Kompetisi PSSI, Yandri.

Lalu berlanjut ke materi Match Regulation yang dibawakan oleh Asep Saputra (Match Commisioner AFC Expertise) dan yang terakhir adalah mengenai suporter itu sendiri, disampaikan oleh Head of Direktorat Pemberdayaan Suporter dan Fans Engagement, Budiman Dalimunthe.

Pengembangan Direktorat Teknik PSSI

Pada sesi materi ini, Indra Sjafri yang merupakan Direktur Teknik PSSI, tampil sebagai nara sumber. Dia banyak membagikan ceritanya kepada semua suporter peserta seminar yang hadir.

“Saya melihat bahwa saat ini, sepak bola sudah berubah menjadi industri, dan terbukti suporter merupakan bagian dari hal tersebut, begitu pentingnya juga suporter bagi kelangsungan sepak bola di era industri,” buka Indra saat sesinya.

“Kiprah saya sejauh ini juga termasuk andil dari supporter, dua trofi yang saya raih itu juga berkat doa dan dukungan dari para suporter Indonesia yang datang langsung ke stadion atau yang mendukung di rumah. Saya berharap saat Piala Dunia U20 tahun depan, supporter kita makin membanggakan dan lebih baik,” lanjut dia menambahkan.

Visi dan misi dari Direktoratnya, adalah menjadikan timnas Indonesia juara di tingkat Asia Tenggara dan Asia, memastikan Indonesia mendapatkan satu tiket ke piala dunia 2026/2030. Target dalam 8 tahun, top 10 di Asia. Dalam 12 tahun, top 5 Asia.

Indra pun menjabarkan perencanaan teknik yang dibuatnya. Meliputi, pengembangan klub, infrastruktur, kompetisi senior dan usia muda. “Kemudian SSB, sepak bola di sekolah, edukasi pelatih, pemain elit, rencana jangka panjang timnas, pengembangan di provinsi, Grassroot & Youth Development, data analisis talent scout & sport science dan sepak bola wanita,” jelas Indra.

“Untuk mencapai itu semua, pelan-pelan kita akan melakukannya dan mengubahnya. Dengan support 100% dari semua elemen sepak bola Indonesia. Saya juga adalah salah satu orang yang percaya akan adanya sesuatu yang berproses, karena sejauh ini saya melakukannya, juga tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan cepat dan instan,” sebutnya.

Sosialisasi Perubahan Law of the Game

Program pelatihan manajemen supporter sepak bola yang bekerja sama dengan Kemenpora RI, dimanfaatkan PSSI untuk mensosialisasikan perubahan peraturan permainan (Law of the Game FIFA) terbaru tahun 2020/2021.

Materi dibawakan oleh perwakilan dari Direktorat Kompetisi PSSI, Yandri. “IFAB (International Football Association Board) telah membuat dan merevisi Laws of the Game terbaru, dimana posisi FIFA merupakan salah satu anggotanya. Disini saya akan coba mengungkapkan perubahannya,” bukanya.

“Seluruh perubahan peraturan permainan akan diberlakukan mulai tanggal 1 Juni 2020. Kompetisi/liga/pertandingan yang ditangguhkan memiliki opsi untuk terus menggunakan Law of the Game tahun 2019/20, meskipun dimulai kembali setelah 1 Juni 2020,” lanjutnya.

“Adapun perubahannya antara lain,  Pasal 1: Tiang gawang dan mistar gawang diperbolehkan memiliki bentuk dengan kombinasi dari empat bentuk dasar. Pasal 10: Kartu kuning dan peringatan tidak dibawa ke dalam tendangan dari titik penalti. Pasal 11 – Offside (Handsball yang disengaja oleh pemain bertahan dianggap 'bermain dengan disengaja' untuk alasan offside, tidak offside, apabila gol, gol dianggap sah oleh wasit). Pasal 12 – Pelanggaran dan Kesalahan Handsball: Batas antara bahu dan lengan didefinisikan sebagai bagian bawah ketiak. Pasal 12 – Pelanggaran dan kesalahan Handsball: Handball ‘yang tidak disengaja' oleh pemain penyerang (atau rekan satu tim) hanya dihukum jika itu terjadi 'segera' sebelum gol atau peluang mencetak gol yang jelas. Pasal 12 – Pelanggaran dan Kesalahan, setiap kesalahan (tidak hanya pelanggaran) dengan cara 'mengganggu atau menghentikan serangan yang menjanjikan' harus diberikan Kartu Kuning, seorang penjaga gawang dapat menerima kartu kuning atau diusir dari lapangan (Kartu Merah) karena 'menyentuh bola secara ilegal' untuk kedua kalinya setelah restart (misalnya. tendangan gawang, tendangan bebas, dll.) meskipun disentuh dengan tangan / lengan.”

“Kemudian Pasal 12 – Pelanggaran dan Kesalahan, seorang pemain yang “gagal” tidak berada pada jarak minimal 4m yang diperlukan pada Dropped ball harus menerima Kartu Kuning. Pasal 12 – Pelanggaran dan Kesalahan, jika wasit memainkan advantage atau mengizinkan tendangan bebas 'cepat' untuk pelanggaran yang 'mengganggu atau menghentikan serangan yang menjanjikan', Kartu Kuning tidak dikeluarkan.”

“Lalu perubahan di Pasal 14 – Tendangan Penalti, pelanggaran oleh penjaga gawang tidak dihukum jika tendangan penalti meleset dari gawang atau rebound dari gawang (tanpa sentuhan dari penjaga gawang) kecuali pelanggarannya jelas mempengaruhi penendang tersebut. Pasal 14 – Tendangan Penalti, penjaga gawang diberikan teguran untuk pelanggaran pertama; kemudian Kartu Kuning untuk pelanggaran lebih lanjut (kedua, dst). Penendang dihukum, jika penjaga gawang dan penendang melanggar pada saat yang bersamaan.”

“Ada juga di pasal 3 perubahan sementara, Masing-masing tim diperbolehkan menggunakan maksimum 5 pergantian pemain. Untuk meminimalisir gangguan waktu dalam pertandingan, masing masing tim mempunyai 3 kesempatan untuk melakukan pergantian dalam pertandingan tersebut, termasuk diwaktu peralihan babak. Jika kedua tim melakukan pergantian dalam waktu bersamaan, ini diartikan sebagai satu kali pergantian dari 3 kali pergantian untuk masing masing tim.”

“Terakhir masih dari Pasal 3 – Pemain– Perubahan Sementara, kuota pergantian pemain yang tidak digunakan (Sisa) dapat digunakan pada masa Extra Time. Ketika Peraturan Kompetisi/pertandingan membolehkan pergantian pemain pada masa Extra Time, setiap tim akan mempunyai 1 tambahan kuota dalam hal pergantian, pergantian juga dapat dilaksanakan sebelum dimulainya di babak pertama Extra Time dan babak kedua Extra Time.”

Yandri juga mengungkapkan akan mensosialisasikan perubahan peraturan ini di bulan Oktober 2020. “InsyaAllah, nanti di bulan itu, kami akan mengumpulkan lebih dahulu wasit-wasitnya, dan saya juga akan berikan ke klub-klub serta Asprov. Sehingga semua stakeholders sepak bola Indonesia, mengetahuinya,” ucapnya.

“Kami juga mendapatkan masukan bahwa hal ini juga dapat disosialisasikan kepada kelompok suporter, agar mereka juga mengetahui dan memahami peraturan terbaru dari FIFA. Supaya mereka bisa sama-sama memiliki presepsi sama. Juga ke media dan komentator sepak bola,” tutupnya.

Regulasi Pertandingan (Match Regulation)

Selanjutnya, materi mengenai regulasi suatu pertandingan atau Match Regulation yang dibawakan oleh Asep Saputra (Match Commisioner AFC Expertise). Sebelum membedah materi, dia mengatakan, “Sebelumnya, saya ingin lebih dahulu menyatukan pemahaman perbedaan antara Laws of the Game dengan Match Regulation,” bukanya.

“Laws of the Game yang sebelumnya dibawakan oleh Pak Yandri, aturannya baku, berbeda dengan Match Regulation yang tidak mengikat dan tak sama antara satu kompetisi atau turnamen lainnya disuatu negara. Ada penyesuaian disana.”

“Laws of the Game hanya mengatur permainan dalam suatu pertandingan sepak bola, berbeda dengan match regulation yang mengatur semuanya di dalam suatu pertandingan sepak bola Indonesia,” jelasnya.

Ada 15 struktur regulasi yang dijelaskan olehnya. “Kompetisi, tanggung jawab (perjanjian dengan tim peserta, operator dan klub-klub), jadwal pertandingan, regulasi teknis, protokol pertandingan, delegasi ofisial tim, logistik, media, peralatan, tiket, medis dan anti doping, penegak disiplin, perangkat pertandingan, komersial, dan yang terakhir adalah administrasi,” ungkapnya.

“Jadi yang diatur dalam suatu regulasi pertandingan, sifatnya lebih kompleks,” tutupnya.

Semangat Nusantara Pemersatu Suporter

Materi terakhir adalah mengenai suporter itu sendiri, yang disampaikan oleh Head of Direktorat Pemberdayaan Suporter dan Fans Engagement, Budiman Dalimunthe. Ini merupakan salah satu bagian kerja yang menjadi fokus PSSI saat ini.

“Ketua umum, mengamanahkan kepada saya untuk fokus pada suporter. Karena suporter sepak bola Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari geliat sepak bola, di tingkat manapun. Namun suporter klub profesional cenderung lebih masif dan teroganisir. Ciri utamanya sama, energi dan semangat besar saat mendukung klubnya,” ungkap Budiman.

“Kami melihat adanya kesempatan bahwa setiap klub profesional di Indonesia, telah memiliki komunitas suporter fanatik, dengan energi dan semangat maksimal,” lanjut dia.

Adapun Budiman melihat adanya tantangan dalam menjalaninya. Namun dia yakin, dengan bantuan dari seluruh stakeholders sepak bola di Indonesia, PSSI bisa melakukannya.

“Tantangannya adalah membuat aktifitas yang mampu mentransfer energi dan semangat saat mendukung suatu pertandingan sepak bola, menjadi energi dan semangat dalam kehidupan nyata. Kami yakin bisa melakukannya, tentu kami tak bisa sendiri, butuh bantuan dari suporter itu sendiri dan juga stakeholders sepak bola yang ada di Indonesia,” jelasnya.

Ide dan sasaran objektif yang akan dilakukannya, dijabarkan lebih dalam oleh Budiman. “Idenya adalah program yang mampu menjadi match competition bagi suporter sepak bola untuk mengaplikasikan ‘energi dan jiwa' menghadapi kehidupan layaknya mendukung klub dan timnas. Sementara sasaran objektifnya, membentuk komunitas yang memiliki fungsi kehumasan untuk menyampaikan berbagai informasi positif dan akurat tentang sepak bola dan semangat nusantara,” terangnya.