Nugroho Setiawan: Sepak bola Rekreasi dan Hiburan Keluarga

“Saya punya harapan agar anak-anak di Indonesia tidak susah kalau mau minta izin ke orang tua untuk nonton pertandingan sepak bola. Di sisi lain, orang tua pun taka da rasa khawatir dan bisa menjadikan sepak bola sebagai hiburan keluarga tanpa adanya rasa takut."

Begitulah ungkapan yang disampaikan National Security Officer Nugroho Setiawan dalam sebuah diskusi. Pria yang mengantongi lisensi dari FIFA dan AFC ini menyebut, di Indonesia, sepak bola belum bisa menjadi sarana rekreasi dan hiburan untuk keluarga. 

Salah satu penyebabnya adalah aspek keamanan pertandingan di Indonesia yang masih jauh dari sebagaimana harusnya. Kegiatan menonton pertandingan di stadion masih dianggap publik sebagai salah satu hal yang berisiko.

Oleh karena itu, Nugroho menekankan istilah ‘security awareness’ pada semua pihak. “Sepak bola ini stakeholdernya banyak. Mulai panitia penyelenggara, media, suporter, hingga aparat kepolisian. Semua harus benar-benar komitmen mengenai masalah keamanan. Menyepelekan satu hal kecil tentang keamanan bisa berarti membuka celah untuk sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dalam sebuah pertandingan,” kata Nugroho.

Pria yang pernah terlibat pengelolaan keamanan Piala Kemerdekaan 2008 ini memiliki harapan agar klub-klub di Indonesia mulai bersama-sama mengkampanyekan ‘security awareness’ di setiap pertandingan yang dihelat.

Selama kiprahnya di dunia keamanan sepak bola, Nugroho mengatakan momen yang paling membuatnya bahagia adalah saat melihat banyaknya keluarga, orangtua dan anak-anaknya, duduk di tribun stadion.

Sebelumnya, Nugroho tak pernah berpikir akan fokus menekuni karier di dunia pengelolaan keamanan sepak bola. Jebolan Sastra Rusia Universitas Indonesia ini sebenarnya lebih suka dengan bidang seni gambar, dan punya cita-cita jadi seniman. 

Namun, ia tidak pernah menyesalkan langkah yang diambilnya. Hobinya tersebut malah erat hubungannya dan berguna dalam pekerjaannya saat ini. Salah satunya dalam hal membuat ‘grand design’ pencanaan keamanan.

"Saya nilai pekerjaan saya saat ini adalah bagian dari seni. Tak ada yang impulsif, semua harus based on plan bagaimana memetakan petugas internal kita, pintu masuk penonton, titik keramaian penonton, hingga titik penjagaan pihak kepolisian. Itu seninya," kata Nugroho.

Debutnya di dunia keamanan sepak bola terjadi kala ia dipercaya menjadi 'security officer' Pelita Jaya tahun 2008. Saat itu, Pelita Jaya jadi satu-satunya klub di Liga Super Indonesia yang resmi memiliki ‘security officer’.

Setelah satu tahun di Pelita Jaya, Nugroho kemudian bergabung dengan pengelola kompetisi liga sebagai konsultan. Ia biasanya dilibatkan dalam pertandingan seremonial dan pertandingan berstatus 'high risk'.

Di samping sepak bola, Nugroho saat ini merupakan konsultan ahli di bidang manajemen pengamanan di PLN, Sucofindo, dan perusahaan-perusahaan penyedia jasa keamanan. Selain itu ia juga jadi pengajar sertifikasi untuk manajer keamanan.

Selain Nugroho, Indonesia juga memiliki dua Security Officer lagi yang diakui FIFA dan AFC. Mereka adalah Timmy Setiawan dan Ashar Suryobroto. Namun yang masih aktif di sepak bola hanya Nugroho.

Debat dengan suporter, kata Nugroho, sudah bukan jadi hal yang asing. "Yang sering temen-temen suporter tanyakan itu soal flare. 'Kenapa, Pak? Kan di Italia juga boleh'," ungkap Nugroho sambil menirukan suporter yang mempertanyakan.

"Temen-temen suporter mungkin tidak tahu, kalau klub di Italia juga dihukum dengan sama federasinya. Itulah kenapa kita harus menerapkan security awareness. Kita harus mulai memikirkan dan mengendepankan pencegahan. Bukan cuma tugas federasi, tetapi semua stakeholder ikut membantu dan mensosialisasikannya," kata Nugroho.

Jika semua pihak sudah paham tentang security awareness, maka tidak ada hal yang perlu ditakutkan lagi saat menonton bola. Selain keamanan, kenyamanan penonton di stadion juga akan terjamin. “Kalau sudah demikian, harapan untuk bisa menjadikan sepak bola sebagai rekreasi dan hiburan untuk keluarga bisa diwujudkan,” tutup Nugroho.